Wednesday, 18 April 2012

Tere Liye

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.”
— Tere Liye – Kau,Aku,dan Sepucuk Angpau Merah

Sy berkali2, berkali2 mendapat pertanyaan ttg bagaimana cara terbaik melupakan seseorang/sesuatu. Terlepas pertanyaan itu salah alamat, karena sy jelas bukan psikolog, motivator, dan sejenisnya, sy mau bilang, honestly, ilmu melupakan itu super duper sulit dikuasai. Lebih baik berdamai dengan kenangan. Itu lebih dari cukup utk melegakan hati. Toh, percayalah, cepat atau lambat, waktu akan menghabisi kenangan/seseorang/sesuatu/
dsbgnya.

 "Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk."
--novel "Berjuta Rasanya", tere liye, rilis mei 2012

“Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu"
--Tere Liye, novel 'Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah'.

“Hidup harus terus berlanjut,tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan, dan waktu, waktulah yang akan selalu menepati janji menjadi obat terbaik.”
--Tere Liye, Ayahku (bukan) Pembohong

“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gilau kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.”
― Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^