Monday, 24 December 2012

PEREMPUAN BERJILBAB HITAM


Pagi itu, entah mengapa aku ingin sekali pergi kesana, ketempat yang ku yakini bahwa aku akan bertemu dengannya. Tempat itu adalah tempat dimana dia menghabiskan hari-harinya, bercengkrama dengan malaikat-malaikat kecil yang mengukir senyum ikhlas kepada siapa saja. Tempat dia membaktikan dirinya tanpa pamrih, dengan hati riang dan penuh ketulusan.

Aku merindukan senyum manisnya, tawa riangnya, dan matanya yang berbinar-binar menatap malaikat-malaikat kecil itu. Dia bagaikan bidadari yang di kelilingi oleh malaikat-malaikat kecil jika berada di sana, dan aku sangat merindukannya.

Tepat jam 10 pagi, ku langkahkan kaki ku pergi ketempat itu, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, sesuatu yang selama ini yang selalu mengganggu pikiranku.

Hanya butuh setengah jam perjalanan menggunakan motor untuk aku sampai di tempat itu. Aku parkirkan motorku di parkiran di seberang gedung putih itu, Gedung putih yang cukup luas, yang bisa menampung 200 penghuninya. Gedung itu memiliki plang nama di atas pintu gerbangnya, bertuliskan "Yayasan Kangker Peduli Bangsa". Ya, gedung ini adalah gedung yang menampung orang-orang yang menderita kangker, dan dia bekerja di sini, setiap hari dia membaktikan waktunya disini untuk merawat anak-anak kecil yang menderita kangker, anak-anak kecil itu lah yang ku sebut malaikat-malaikat kecil. 


Niatku yang semula mantap untuk menemuinya, entah mengapa begitu berdiri di depan gedung itu, nyaliku seketika ciut, kaki ku begitu sulit untuk di gerakkan. "Pengecut kamu, untuk hal begini saja kamu tidak berani" batinku memarahi diriku sendiri, tapi kaki ini tak kuasa untuk di gerakkan, kaki ku bagai sudah di semen kuat di trotoar ini.

Tiba-tiba muncul seorang perempuan berjilbab hitam dari pintu gedung putih itu, dan ternyata perempuan itu dia, dia yang ingin ku temui, dia yang bagaikan bidadari yang di kelilingi oleh malaikat-malaikat kecil. Senyumnya begitu manis terkembang ketika keluar dari pintu itu, dan senyum itu kian surut begitu dia melihat keluar karena matahari yang begitu menyengat. Dia berjalan perlahan meninggalkan gedung itu, sembari munutupi wajahnya dengan kertas yang di bawanya.

Melihatnya membuat aku membeku seketika, wajahku tiba-tiba pucat dan membuat tatapanku begitu tajam melihatnya. dan dia menatap ku, dan memperhatikanku dengan heran. Mungkin dalam benaknya saat ini berkata
" apa yang di lakukan laki-laki itu?"
"mengapa dia menatapku seperti itu?"
dan aku melihat kilatan ketakutan di matanya, aku menyesal telah melihatnya seperti itu.

Dia segera menunduk dan berlalu, dan entah mengapa kaki ku melangkah begitu saja, aku menghampirinya, dan aku sekarang sudah berada di depannya, dia kaget begitu melihatku yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Dan dia memperhatikanku, tatapannya terhujam langsung ke hadapanku, dan dia tersenyum, walaupun hanya senyum yang bercampur dengan keheranan.

Semua kata-kata yang telah aku susun dan aku ulang-ulang dari pagi untuk di ucapkan kepadanya, seketika menguap entah kemana, otakku kosong, dan tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku ingin mengucapkan salam padanya dan berharap setelah itu kata-kata lain akan muncul di pikiranku, begitu aku ingin mengucapkannya entah mengapa bibirku begitu berat dan tak mampu mengucapkannya, bahkan hanya mengucapkan salam saja aku tidak mampu. begitu pengecutnya aku, dan aku merasa seperti orang bodoh yang berdiri di hadapannya.

Segera aku palingkan tubuhku dan pergi berlalu meninggalkannya, aku tak berani menoleh ke belakang, aku tak berani melihat ekspresi wajahnya, melihat aku yang datang menghampirinya dan pergi begitu saja menginggalkannya.

Aku menyesali kebodohanku, aku menyesali diri ku yang begitu pengecut, aku menyesali diriku yang seperti ini. Jika tetap seperti ini, pikiran-pikiran yang mengganggu itu selamanya tak kan pernah pergi dari ku.
Aku menyesali kebodohanku...


4 comments:

  1. Assalamu'alaikum..
    Salam kenal mba Dian..
    Salam Bloofers!
    Semoga bisa berkunjung lagi kesini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumusalam..
      Salam Kenal Mas Yudhi
      terima kasih sudah berkunjung,
      sering mampir ya hehe

      Delete
  2. kadang dihadapan perempuan yang begitu amat dikagumi, aku pun seperti itu. hanya bisa diam bercengkrama dengan kesunyian dan sepi. dan akhirnya ketika dia berlalu yang ada hanya sebuah penyesalan.

    cerita yang bagus. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi mas Bayu
      Salam kenal

      ini sambungan dari
      "Laki-laki berjubah hitam"

      Delete

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^