Monday, 13 January 2014

Maya

Seperti sabtu pagi biasanya, aku sudah melangkahkan kaki keluar kamar kos menuju Mesjid yang tak seberapa jauh dari kamar kos mungil milikku. Pagi ini suasananya sungguh menentramkan, matahari pagi yang tak terlalu menyengat, awan berarak meneduhkan serta angin sepoi menyapu kulit. sabtu adalah jadwalku dan saudari-saudari lain untuk "melingkar", aku lebih suka menyebutnya begitu. 

Setibanya di mesjid aku menuju beranda pojok tempat kami selalu melingkar, tapi ternyata disana belum ada sesiapa, aku duduk bersila disana dan mengeluarkan mushaf kecilku, ada yang belum tuntas aku kerjakan pagi ini yaitu mengkhatamkan 1 juz bacaan tilawahku, jadi aku menunggu saudari-saudari yang lain datang sembari tilawah.

Di pojok lain beranda mesjid aku melihat seorang ibu memakai gamis berwarna coklat dengan kerudung senada, entah mengapa aku merasa di perhatikannya sedari tadi, apakah ada yang aneh denganku? tanyaku dalam hati. Aku beranikan menatap balik wajahnya dan melemparkan seulas senyum, ia pun membalas senyumku. Kemudian dia berdiri dan mendekatiku sembari mengucap salam

"Assalamualaikum dik"

"Waalaikumusalam warahmatullah ibu" dia pun duduk di sampingku dan menjabat tanganku, mencium pipi kiri dan kananku kemudian memelukku erat, lama sekali. Aku heran dengan tingkah ibu ini, apa yang membuat ia berlaku demikian, dan ternyata si ibu yang masih memelukku ini, sedang terisak, ia menangis, tapi entah kenapa. Aku beranikan diri untuk bertanya " ibu kenapa? apa baik-baik saja? tanyaku cemas.

"duh maaf dek, tak seharusnya saya seperti ini" ibu itu berkata sambil melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. "boleh saya tau nama adik siapa?" tanyanya kemudian.

"nama saya Laila bu, Laila Febrina, nama ibu siapa?" ujuarku mengenalkan diri

"Saya Aminah, ibu aminah", jawabnya sambil tersenyum, " kamu tinggal dimana? asli orang sini? kerja atau kuliah?" tanyanya beruntun

aku pun tersenyum "saya tinggal di sekitaran mesjid sini bu, nggak jauh cuma lima menit jalan kaki, saya bukan asli sini, saya dari Batam, saya baru pindah kerja kesini, belum dua bulan" jawabku.

"owh gitu, saya kira kamu asli orang sini, maaf kalau saya membuat kamu heran dan kaget dik, pasti kamu bertanya-tanya kenapa saya memeluk kamu dan mengangis, kamu mirip sekali dengan adik saya, mirip sekali". dia mengeluarkan telpon genggamnya.

"masa si buk? mungkin adik ibu salah satu dari tujuh kembaran saya di dunia" jawabku sambil bercanda.

ia pun memperlihatkan sebuah foto padaku, ada seorang perempuan berkerudung, bermata sipit, dan berkacamata di foto itu, dan ternyata benar, mirip sekali denganku, tapi yang di foto lebih cantik. aku tak bisa berkata apa-apa.

"mirip sekali bukan? namanya Maya, usianya sepantaran kamu, dulu dia kuliah di ITB jurusan teknik mesin, walaupun wajahnya terlihat feminim, dia sangat tomboy" bu aminah mulai menceritakan tentang adiknya itu. "dia sangat aktif dan ceria, siapa saja yang berada di dekatnya akan sangat senang, saya sangat menyayanginya".

"sekarang dia dimana bu?" tanyaku, penasaran saja ingin bertemu langsung, pasti seru bisa bertemu langsung dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan kita.

Bu aminah tersenyum getir "dia meninggal satu tahun lalu, karna radang selaput otak yang di deritanya, ternyata dia sudah lama menyimpan sakitnya itu sendiri, kami sekeluarga tak ada yang tahu tenntang penyakitnya. Makanya begitu melihat kamu masuk tadi, saya langsung teringat dengan adik saya maya, saya sangat rindu bertemu dengannya".

"Aduh maaf buk, saya tak bermaksud membuat ibu bersedih" aku tak tau harus berucap apa lagi

"nggak kok, kamu nggak salah apa-apa, malah saya seneng banget bisa ketemu kamu, rindu saya terobati, boleh saya menganggap kamu adik saya, maaf mungkin ini terdengar lancang, karna kita baru saja bertemu, tapi entah mengapa begitu melihat kamu, saya langsung jatuh sayang dik" ucap bu aminah tulus.

"dengan senang hati bu, senang bisa punya keluarga baru di tanah rantau" jawabku senang.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^