Thursday, 25 September 2014

Pertemuan pertama di pelaminan

Di titik keputusasaanku, jalan terang itu muncul begitu saja. Harapanku yang sempat sampai di titik nadir kini kembali menggebu. Walaupun sebenarnya aku sudah pasrah dengan semua ketentuanNya, tapi dalam relung hati aku masih berharap, berharap dalam setiap doa yang aku panjatkan. Di umurku yang sudah melebihi kepala tiga, aku tak kunjung menikah.

Siang itu, setelah aku menyelesaikan tugasku mengajar di kelas IV B, HPku berbunyi, ada sms yang masuk, segera ku buka dan ternyata sebuah sms dari pulau seberang, dari Wak Mur. "Assalamualaikum nduk, gimana kabarnya? sehat?" segera saja aku balas sms itu " Wa'alaikumusalam.. Alhamdulillah sehat wak, wak apa kabar? lama banget nggak dapat kabar dari wak? kangen hehe" setelah selesai mengetik segera aku kirim sms itu.

Selang beberapa menit hp ku kembali berbunyi, ternyata balasan dari wak mur " Alhamdulillah wak juga kangen, main lah ke Batam, atau perlu wak cariin orang Batam biar bisa tinggal di sini?" aku hanya tersenyum membaca balasan sms dari wak mur, kemudian hpku bunyi kembali ternyata masih sms dari wak mur "ini tawaran serius". dan entah kenapa selesai membaca kata-kata itu hatiku tiba-tiba berdebar kencang tak karuan, aku menghela nafas panjang dan berdoa dalam hati, "Ya Allah, jika ini jalan yang Engkau tunjukan maka permudahlah jalanku".

*****

Dari wak Mur, kini aku tau namanya, walau tak pernah bersitatap, entah kenapa hatiku selalu berdebar lebih kencang begitu mendengar namanya disebut. Namanya ku titipkan pada ibu dan ayah yang akan melaksanakan Umrah besok lusa, aku titipkan namanya untuk ibu dan ayah panjatkan di Tanah suci nanti. Jika memang dia adalah jodohku, aku meminta agar Allah SWT memudahkan jalanku menuju jalan yang di RidhoiNya, jika bukan jodohku, maka jangan biarkan dia mengotori hati dan pikiranku.

Selama Ibu dan Ayah berada di tanah suci selama itu juga aku menjalin komunikasi dengannya, walaupun hanya lewat HP, baik dengan SMS ataupun telepon. Aku juga mencari tau tentang dirinya dari Ibu-ibu Wirid di lingkungan kakakku tinggal. Dulu Aku pernah tinggal di Batam, tak begitu lama, tinggal dirumah kakakku yang bekerja di sana, sehingga aku akrab dengan ibuk-ibuk wirid di tempat tinggalnya.

Sepulangnya orang tuaku dari umrah, aku memantapkan hati untuk menerimanya, menerima nya sebagai calon imamku. Lamaran pun dilakukan via telepon, aku memutuskan untuk menikahinya tanpa bertemu langsung dengannya terlebih dahulu, aku begitu yakin dia akan menjadi imam yang baik bagiku kelak. dan orang tua dan keluarga besarku juga sudah menerimanya. Persiapan pun dilakukan, sebulan lagi pernikahan akan dilakukan di kotaku, dia dan keluarganya akan datang beberapa hari menjelang hari H. Sebenernya dia sudah mengirimkan fotonya melalui smartphone keponakanku, tapi entah mengapa aku hanya ingin melihat wajahnya langsung ketika kami di pelaminan nanti, dan akupun memintanya tidak melihat fotoku. 

*****

Dua hari menjelang hari H, adik-adiknya, tantenya, sahabat karibnya dan beberapa ibu-ibu anggota wirid kakakku datang menyertainya kekotaku. dia tinggal di rumah Abang keduaku, dan kami belum bertatap muka sama sekali. Di hari H, dia duduk di depan Ayahku, aku anak satu-satu yang belum menikah, ini akan menjadi tugas terakhirnya. MC sudah mengucapkan salam dan memulai acara, aku hanya bisa mendengarkan dari dalam kamar, kami memang tidak disandingkan ketika mengucapkan ijab kabul, karena belum muhrim, Jantungku berdebar-debar kencang sekali, tanganku basah karena keringat, berkali-kali aku menyekanya dengan tisu, dalam hati aku berdoa, "Ya, Allah semoga dia adalah imam terbaik yang engkau kirimkan untuk membimbingku untuk semakin mendekatkan diri kepada Mu, Aamiin.." 

"Saya terima nikahnya Raudah binti Abdul malik dengan seperangkat alat sholat dan 5 gram emas di bayar tunai" terdengar tegas dan lancar dia menjawab ijab yang di sampaikan oleh ayahku dan disambut dengan Korr "Saaaaah" dari para tamu yang datang. "Alhamdulillah, aku mengucap syukur yang teramat sangat, akhirnya aku menjadi Istri seseorang, semoga aku bisa menjadi istri yang baik".

Kakaku masuk ke dalam kamar dan menggandengku ke luar untuk menemui suamiku, dan begitu melihat wajahnya aku sempat kaget dan dalam hati aku berkata"bukankah dia laki-laki yang dulu sombong banget waktu kami menjadi Remaja Mesjid, nggak noleh sama sekali ketika disapa? dan ternyata sekarang dia menjadi suamiku, Allah sungguh luar biasa mengatur segala urusan hambaNya" aku tersenyum memandangnya dan diapun membalas dengan senyuman. 

~Selesai~

NB: Terinspirasi dari kisah nyata



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^