Saturday, 17 January 2015

Kampung Tua Tanjung Uma

Seumur-umur lahir dan besar di Batam saya baru 2 kali ke Tanjung Uma, padahal sering banget lewat. Pertama waktu jaman kuliah, Di tahun 2008 Tanjung uma pernah tertimpa musibah kebakaran, jadi saya dan temen-temen yang tergabung dalam LDK berkunjung kesana di kala ramadhan, jadi kami kesana menjelang magrib, nggak bisa liat apa-apa, Kunjungan kedua libur tahun baru kemarin. Saya penasaran banget, karena banyak orang yang bilang kalau malam tanjung uma itu cantik banget, karena bisa melihat pemandangan kota Batam dari ketinggian, saya juga penasaran dengan rumah pelantarnya (rumah yang berdiri di atas laut). Saya juga pernah melihat foto di salah satu media sosial yang memperlihatkan gambaran kontras antara rumah pelantar dan sebuah hotel mewah. 

View Batam dari Tanjung Uma (deket gerbang)


Kontras! Rumah Pelantar dan Hotel mewah

Appa (papa) saya dulu pernah bercerita, di tahun 80an, daerah Tanjung uma, Jodoh dan Nagoya itu masih berupa rawa-rawa, bahkan dulu masyarakatnya masih menggunakan perahu sebagai salah satu alat transportasinya, bisa ngebayangin nggak, daerah jodoh yang sekarang kita liat, dulu banyak perahu hilir mudik, pasti keren banget hehe..

Di tahun 80an juga masih banyak Suku laut (suku asli kepulauan riau, yang hidup dan tinggal di atas perahu) yang bersandar di pelabuhan-pelabuhan nelayan di sekitaran Tanjung uma ketika musim angin laut sedang tinggi. Di tahun 80an juga kata Appa, mata uang dolar singapura juga menjadi salah satu alat tukar yang digunakan pada masa itu, kita bisa beli sebungkus nasi padang pake dolar hihi..
Tugu Kampung Tua Tanjung Uma

Owh ya balik lagi ke Tanjung uma di jaman sekarang, setelah ditelusuri, rumah pelantar disini adanya jauh banget jalan ke bawah, patokan utamanya adalah Tugu kampung tua yang berwarna kuning, setelah dari tugu jalan terus ambil jalan lurus sampai ketemu pasar, disanalah rumah-rumah pelantar berdiri, tapi sayang banget, dibawah kolong-kolong rumah pelantarnya banyak banget sampah-sampah. Semoga kedepannya masyarakat dan pemerintah bisa bekerjasama untuk sampah-sampah yang ada disini.
Jembatan menuju salah satu rumah pelantar

kapal dan perahu yang tersampar





2 comments:

  1. Aku pernah ke sini tapi cuma lewat aja... gak turun sampe ke rumah pelantar....

    ReplyDelete
  2. semoga dari ceritanya kak Dian tentang kampung tua tanjung uma ini
    pihak-pihak terkait terutama pemerintah daerah setempat tergerak untuk melakukan gerakan pelestarian kampung tua ini

    terima kasih artikel nya Kak Dian

    ReplyDelete

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^