Monday, 21 March 2016

Pa-Auk Tawya Vipassanā Dhura Hermitage - Rempang Batam

Barelang Batam
 Pulau Rempang (Barelang, Batam), Tepat 8 Km dari Jembatan ke 4 belok kanan masuk dan naik keatas (Ada Papan nama " Pa Auk Tawya Vipassana Dhura Hermitage)
Pa-Auk Tawya Vipassanā Dhura Hermitage, mungkin banyak dari orang Batam merasa asing dengan nama ini, saya pun begitu sampai akhirnya sama menjejakkan kaki ke wihara yang terletak di dalam hutan Rempang ini. Pa-Auk Tawya ini merupakan sebuah tempat ibadah berupa vihara yang digunakan oleh para Biksu untuk bermeditasi, letak Pa-Auk Tawya  jauh dari keramaian. Untuk menuju tempat ini jalan yang akan di lalui belum bagus. Jika ingin berkunjung ke vihara ini, kita bisa melihat petunjuk jalan yang terletak di sebelah kanan jalan dari arah jembatam 4 Barelang. Plang nama yang ada di sisi kanan jalan tidak terlalu besar, bertuliskan Pa-auk Tawya, di belakang plank nama ada sebuah bangunan berbentuk vihara mini yang belum selesai di bangun. Dari plank nama ini terdapat jalan tanah memerah, ikuti saja jalan berbatu ini, jalannya memang sedikit ekstrim, jika hari hujan atau tanahnya dalam keadaan becek, sangat tidak disarankan untuk mengunjugi tempat ini, karena jalan menuju vihara ini cukup curam. Mungkin kedepannya akan di perbaiki menjadi lebih baik.

Vihara batam



Dari kejauhan sudah terlihat vihara bercat hijau ini dari ketinggian, Kompleks Pa-Auk Tawya ini lumayan besar. Begitu menjejakkan kaki, yang menyambutkita adalah ratusan tangga yang akan membawa kita ke bangunan utama, untung saja jarak dari anak tangga ke anak tangga lainnya tidak tinggi, jadi walaupun harus menaiki kurang lebih 208 anak tangga tidak terasa begitu berat. Yang unik dari anak tangga yang ada di sini, setiap anak tangganya di sisi kiri dan kanan berukiran bunga yang cukup besar, dan setiap bunganya tidak sama persis, terlihat sekali jika ukiran dari gambarnya di tulis dengan tangan atau secara manual. 



Begitu sampai di atas, bangunan utama berupa bangunan berbentuk persegi dan atap yang beringkat tiga terlihat, mungkin jika tidak melihat simbol di atas atapnya, kita bisa melihat kemiripan bangunan ini dengan mesjid. terlihat saat kami berkunjung, seorang biksu baru keluar setelah menyelesaikan meditasinya. Jika meditasi sedang berlangsung, kita yang berkunjung dilarang untuk mengeluarkan suara, karena akan mengganggu mereka yang sedang bermeditasi.

Vihara Batam

Disekitar bangunan utama kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian, bahkan juga bisa melihat laut. Disalah satu sudut dari taman yanga ada di komleks Pa-Auk Tawya ini juga terdapat patung (mungkin patung budha, saya juga kurang tau) di sekekitar patung ini juga terdapat stupa-stupa kecil seperti yang ada di candi Borobudur. 


Dulu setiap melihat postingan foto temen di media sosial, selalu bertanya-tanya di dalam hati," ini dimana ya?" sekarang udah tau dan sudah menjejakkan kaki di tempat ini, 

Selamat Jalan-jalan :) :) 

Wednesday, 16 March 2016

Angkot Di Batam jilid 2

Pagi kemarin, di sepanjang jalan Batu Aji menuju Muka kuning, saya melihat banyak sekali para pekerja yang masih menunggu kendaraan umum untuk membawa mereka ke tempat bekerja. Ternyata hari itu ada demo para supir angkutan umum, yaitu demo supir Mobil "Dapur Dua Belas" (bimbar)  dan juga supir carry. Mereka berdemo di karenakan Trans Batam yang akan di tambah Armadanya dan di tambah jalurnya untuk beberapa tempat di Batam. Di beberapa titik terlihat pak polisi berjaga-jaga untuk mengamankan. Di Simpang STM, semua penumpang yang sudah naik Carry atau Bimbar dipaksa turun oleh para pendemo. Terpaksa sebagian mereka memilih jalan kaki hingga menemukan kendaraan yang bisa mengantar mereka ke tempat bekerja, terlihat wajah kecemasan di muka mereka karena takut terlambat untuk masuk kerja, karena pastinya jika terlambat masuk, gaji mereka akan di potong. Dan, yang kembali menjadi korban adalah para penumpang.

Sebagai angkoters sejati (sebutan untuk penumpang angkot) saya sudah merasakan bagaimana tidak enak dan tidak nyamannya menggunakan angkot terutama "Dapur dua belas" yang berwarna merah. Sopir angkot ini sangat amat tidak mementingkan keselamatan penumpang, yang mereka pikirkan hanya setoran dan uang yang akan mereka dapatkan. Bahkan para sopir terkesan ugal-ugalan dalam berkendara, dan bahkan mereka juga sering adu balap dengan angkot lain untuk mencari penumpang, belum lagi mereka juga sering ngetem sembarangan dan lama. Untuk pengendara lain baik mobil maupun motor yang tinggal di sekitaran Batu aji sudah paham betul dengan kelakuan angkot yang tidak tertib lalu lintas. Seringkali mereka yang sedang berjalan laju di jalur kanan, tiba-tiba nyalip mengambil jalur kiri tanpa memikirkan kendaraan yang ada di samping atau di belakangnya. Sering juga terjadi kecelakaan karena sopir angkot yang ugal-ugalan ini. Setau saya, angkot merah ini, kadang di sewakan oleh pemiliknya kepada sopir "tembak" (sopir dadakan) pada jam-jam tertentu, sehingga para sopir yang baru belajar dan tidak memiliki SIM bisa mengendarai angkot ini.

Di karenakan hal itu sejak beberapa bulan yang lalu saya lebih memilih berangkat kerja bareng suami, walaupun datang kepagian dan lebih cepat 1 jam dari jam kerja yang seharusnya. untuk pulang kerja saya lebih memilih naik carry yang relatif lebih aman dan nyaman. Para angkoters, mereka tidak mempunyai banyak pilihan untuk memilih kendaraan umum sementara mereka membutuhkan kendaraan umum sebagai sarana transportasi mereka.

Jika ingin angkot ini tetap beroperasi dan di sukai oleh para angkoters, ada baiknya mereka memperbaiki fasilitas dan kenyaman yang di berikan kepada penumpang sehingga, para penumpang merasa nyaman untuk menaiki angkot ini. Jika penumpang merasa aman dan nyaman mereka tidak akan memilih kendaraan lain.

Sekian curhatan CaMud (calon mamah muda) yang sudah menjadi angkoters sejati dari jaman SMK, curhatan ini tidak bermaksud menjelek-jelekan atau menyinggung pihak manapun. Sekian dan terima kasih :) 

Mutiara Hikmah: Keajaiban Istighfar - Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA.


Keajaiban Istighfar

Barang Siapa yang  Mulazamah (selalu beristighfar) Allah akan jadikan jalan keluar dari masalahnya dan Allah akan memberikan rezeki dari tempat tidak disangka-sangka (HR Bukhari)



Semoga kita senantiasa mengamalkan Istighfar di setiap keadaan

Tuesday, 15 March 2016

Sepenggal Kisah di Novel Ayat-ayat Cinta 2

Kisah Syaikh Muhammad Abduh seorang ulama terkenal mesir, yang mengisi kondisiumat Islam, dan keluarlah kalimat yang sangat terkenal " Al-Islamu mahjuubun bil muslimin" yang artinya Islam tertutup oleh umat Islam. Syeikh Muhammad Abduh pernah berdakwah sekian lama di Paris. Bahkan dari Paris, Syaikh Muhammad Abduh menerbitkan majalah dakwah " Al-Urwah Al-Wusqa" untuk menyadarkan dan menggerakkan kaum muslimin di seluruh dunia. Di Paris, Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan segala keluhuran dan kemuliaan ajaran agama Islam. Di tangannya tidak sedikit orang-orang Prancis yang masuk Islam. Mereka masuk Islam karena takjub dengan keindahan dan keluhuran ajaran agama Islam.

Ayat ayat cinta


Hingga suatu hari, Syaikh Muhammad Abduh harus meninggalkan Paris dan kembali ke dunia Arab, lalu kembali ke Mesir. Syaikh Muhammad Abduh kembali mengajar di Al-Azhar University, Kairo. Sekian lama ditinggal Syaikh Muhammad Abduh, murid-murid dan jamaah Syaikh Muhammad Abduh di Paris, merasakan kerinduan untuk berjumpa dengan gurunya. Di antara mereka ada beberapa orang yang nekat melakukan perjalanan panjang menjumpai sang guru, yaitu Syaikh Muhammad Abduh. Mereka melakukan perjalanan darat, lalu perjalanan laut menyeberangi laut Mediterania. Selain ingin berjumpa dengan Syaikh Muhammad Abduh, mereka berharap akan menemukan saudara seiman dengan kualitas hidup yang indah, dalam peradaban yang indah.

Mereka membayangkan bahwa Mesir, tempat sang guru lahir dan besar, tempat Al-Azhar berdiri dan ribuan ulama dari waktu ke waktu menebar ilmu dan berdakwah, pastilah sebuah negeri dengan cara hidup sangat Islami yang indah. kebersihannya pasti terjaga melebihi paris, Sebab orang-orang Mesir sangat hafal hadist "Ath thaharu syatrul iman", kebersihan itu separuh dari iman. Pastilah tidak ada orang miskin, sebab semua menunaikan zakat. Dan gambaran-gambaran lainnya yang terbayang indah. Keindahan itu muncul begitu saja dari penjelasan-penjelasan Syaikh Muhammad Abduh tentang kesempurnaan ajaran agama Islam.

Tatkala kapal yang mereka tumpangi merapat ke pelabuhan Pord Said, dan para penumpang satu per satu turun. Mereka juga turun, murid-murid Syaikh Muhammad Abduh dari Paris itu, kaget bukan main menyaksikan pelabuhan Pord Said yang semberawut. Orang-orang Mesir yang tidak bisa tertib, kata-kata keras dan kasar, dan kebersihan yang tidak dijaga. Dan pengemis ada dimana-mana.

Mereka mencoba menghibur diri. Sebuah kota pelabuhanbisa dimaklumi. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Kairo. Sampai di kairo, mereka benar-benar kaget dan kecewa. gambaran keindahan peradaban Islam seperti yang disampaikan Syaikh Muhammad Abduh , tidak mereka jumpai. mereka kecewa, tidak jauh dari Masjid Al-Azhar, mereka menyaksikan seorang laki-laki berjubah, kencing dengan berdiri menghadap tembok. "mana adab islami yang indah itu? Bukankah buang air kecil ada adab-adabnya? Apakah orang itu tidak tau adabnya? Bukankah ia hidup di dekat Al-Azhar?"

Mereka juga menyaksikan pengemis yang kumal di area Maydan Husein, "Apakah mereka tidak malu kepada Rasulullah? Bukankah Rasulullah tidak menyukai umatnya menjadi peminta-minta? Kenapa mereka meminta-minta? Apakah mereka tidak malu meminta-minta di dekat Al-Azhar? Apajah ulama-ulama Al-Azhar tidak ada yang mengingatkan? Apakah orang-orang kaya di sini tidak bayar zakat?"

Ribuan pertanyaan berjubel di kepala mereka. Mereka terpukul dan kecewa. Mereka sedih, kenapa mereka mendapatkan kenyataan yang pahit dan mengenaskan itu? Lezatnya iman yang mereka rasakan selama ini, sekarang dibenturkan dengan kenyataan riil umat Islam yang jauh dari imajinasi keluhuran ajaran islam yang mereka imani.

Mereka akhirnya menemukan kantor Syaikh Muhammad Abduh. Dan mereka pun menjumpai Sang Guru yang dirindukan. Begitu mereka bertemu dengan Syaikh Muhammad Abduh, mereka protes tentang apa yang mereka lihat sejak turun kapal dan menginjak tanah Mesir hingga sampai di jantung Al-Azhar. mereka mengungkapkan kekecewaan kepada Sang Guru.

" Kami berharap mendapatkan contoh Islam yang hidup di mesir ini, Syaikh. tapi sungguh jauh dari yang kami harapkan. kami hampir-hampir Islam tidak di praktik di sini? Mana islam yang indah, Islam yang luhur seperti yang Syaikh ajarkan kepada kami saat di Paris dulu? Kenapa hanya sepelemparan batu dari Al-Azhar, ada laki-laki berjubah mengencingi tembok sambil berdiri? kenapa Paris yang tidak mengenal ajaran Islam lebih bersih dan lebih teratur daripada Kairo? Sesungguhnya apa yang terjadi, Syaikh?"

Bibir Syaikh Muhammad Abduh kelu. Ulama besar itu tidak bisa menjawab pertanyaan bernada protes dari murid-murid terkasihnya itu. Kedua mata Syaikh Muhammad Abduh basah. Ada kesedihan luar biasa menyusup di hatinya. dengan menahan isak, Syaikh Muhammad Abduh mengucapka kalimat yang kemudian sangat terkenal di seantero dunia Islam "Al-Islamu mahjuubun bil muslimin". Islam tertutup oleh umat islam. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam. Dan perilaku-perilaku itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran islam. Tidak juga bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi karena dari mulut mereka setiap saat mengaku bahwa mereka adalah umat Islam, maka wajar jika banyak orang menganggap seperti itulah ajaran Islam. padahal bukan ajaran Islam.

Akibatnya, jika yang dilihat adalah perilaku sebagian umat Islam yang tidak terpuji itu, dan itu yang dijadikan timbangan maka orang bisa antipati kepada islam. tak ayal, cahaya keindahan Islam tertutupi, Tragisnya yang menutupi cahaya itu justru perilaku pemeluknya yang tidak Islami.

Kisah Syaikh Muhammad Abduhdan murid-muridnya itu sesungguhnya masih terus terjadi hingga sekarang. Dan kalimat Syaikh Muhammad Abduh masih sangat relevan sampai sekarang. Betapa banyak manusia masuk Islam karena menemukan keindahan cahaya Islam itu langsung lewat Al-Qur'an, lewat hadist, atau apa yang di tulis para ulama yang ikhlas. Dan mereka lalu bersyukur bahwa mereka telah terlebih dahulu mengetahui Islam, mengenal Islam dan mengimani Islam sebelum berjumpa dengan umat Islam yang berperilaku jauh dari Islam dan bisa menjadi penghalang orang bersimpati kepada islam.


Dari sekian banyak kisah dan cerita hikmah yang disampaikan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novel Ayat-ayat Cinta 2 ini, kisah di atas sungguh menarik hati. Kisah tentang Syaikh Muhammad Abduh sungguh sangat menyindir sekali, terutama saya sebagai salah satu umat Islam. Sebagai umat Islam sewajarnya kita memberikan contoh melalui perilaku kita sebagai umat islam yang baik dan tidak memperlihatkan perilaku dan sikap yang buruk, dan juga tidak menjadi penghalang terpancarnya cahaya Islam. Sebuah cambuk bagi diri sendiri untuk memperbaiki diri menjadi umat islam yang lebih baik dan islami.