Tuesday, 15 March 2016

Sepenggal Kisah di Novel Ayat-ayat Cinta 2

Kisah Syaikh Muhammad Abduh seorang ulama terkenal mesir, yang mengisi kondisiumat Islam, dan keluarlah kalimat yang sangat terkenal " Al-Islamu mahjuubun bil muslimin" yang artinya Islam tertutup oleh umat Islam. Syeikh Muhammad Abduh pernah berdakwah sekian lama di Paris. Bahkan dari Paris, Syaikh Muhammad Abduh menerbitkan majalah dakwah " Al-Urwah Al-Wusqa" untuk menyadarkan dan menggerakkan kaum muslimin di seluruh dunia. Di Paris, Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan segala keluhuran dan kemuliaan ajaran agama Islam. Di tangannya tidak sedikit orang-orang Prancis yang masuk Islam. Mereka masuk Islam karena takjub dengan keindahan dan keluhuran ajaran agama Islam.

Ayat ayat cinta


Hingga suatu hari, Syaikh Muhammad Abduh harus meninggalkan Paris dan kembali ke dunia Arab, lalu kembali ke Mesir. Syaikh Muhammad Abduh kembali mengajar di Al-Azhar University, Kairo. Sekian lama ditinggal Syaikh Muhammad Abduh, murid-murid dan jamaah Syaikh Muhammad Abduh di Paris, merasakan kerinduan untuk berjumpa dengan gurunya. Di antara mereka ada beberapa orang yang nekat melakukan perjalanan panjang menjumpai sang guru, yaitu Syaikh Muhammad Abduh. Mereka melakukan perjalanan darat, lalu perjalanan laut menyeberangi laut Mediterania. Selain ingin berjumpa dengan Syaikh Muhammad Abduh, mereka berharap akan menemukan saudara seiman dengan kualitas hidup yang indah, dalam peradaban yang indah.

Mereka membayangkan bahwa Mesir, tempat sang guru lahir dan besar, tempat Al-Azhar berdiri dan ribuan ulama dari waktu ke waktu menebar ilmu dan berdakwah, pastilah sebuah negeri dengan cara hidup sangat Islami yang indah. kebersihannya pasti terjaga melebihi paris, Sebab orang-orang Mesir sangat hafal hadist "Ath thaharu syatrul iman", kebersihan itu separuh dari iman. Pastilah tidak ada orang miskin, sebab semua menunaikan zakat. Dan gambaran-gambaran lainnya yang terbayang indah. Keindahan itu muncul begitu saja dari penjelasan-penjelasan Syaikh Muhammad Abduh tentang kesempurnaan ajaran agama Islam.

Tatkala kapal yang mereka tumpangi merapat ke pelabuhan Pord Said, dan para penumpang satu per satu turun. Mereka juga turun, murid-murid Syaikh Muhammad Abduh dari Paris itu, kaget bukan main menyaksikan pelabuhan Pord Said yang semberawut. Orang-orang Mesir yang tidak bisa tertib, kata-kata keras dan kasar, dan kebersihan yang tidak dijaga. Dan pengemis ada dimana-mana.

Mereka mencoba menghibur diri. Sebuah kota pelabuhanbisa dimaklumi. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Kairo. Sampai di kairo, mereka benar-benar kaget dan kecewa. gambaran keindahan peradaban Islam seperti yang disampaikan Syaikh Muhammad Abduh , tidak mereka jumpai. mereka kecewa, tidak jauh dari Masjid Al-Azhar, mereka menyaksikan seorang laki-laki berjubah, kencing dengan berdiri menghadap tembok. "mana adab islami yang indah itu? Bukankah buang air kecil ada adab-adabnya? Apakah orang itu tidak tau adabnya? Bukankah ia hidup di dekat Al-Azhar?"

Mereka juga menyaksikan pengemis yang kumal di area Maydan Husein, "Apakah mereka tidak malu kepada Rasulullah? Bukankah Rasulullah tidak menyukai umatnya menjadi peminta-minta? Kenapa mereka meminta-minta? Apakah mereka tidak malu meminta-minta di dekat Al-Azhar? Apajah ulama-ulama Al-Azhar tidak ada yang mengingatkan? Apakah orang-orang kaya di sini tidak bayar zakat?"

Ribuan pertanyaan berjubel di kepala mereka. Mereka terpukul dan kecewa. Mereka sedih, kenapa mereka mendapatkan kenyataan yang pahit dan mengenaskan itu? Lezatnya iman yang mereka rasakan selama ini, sekarang dibenturkan dengan kenyataan riil umat Islam yang jauh dari imajinasi keluhuran ajaran islam yang mereka imani.

Mereka akhirnya menemukan kantor Syaikh Muhammad Abduh. Dan mereka pun menjumpai Sang Guru yang dirindukan. Begitu mereka bertemu dengan Syaikh Muhammad Abduh, mereka protes tentang apa yang mereka lihat sejak turun kapal dan menginjak tanah Mesir hingga sampai di jantung Al-Azhar. mereka mengungkapkan kekecewaan kepada Sang Guru.

" Kami berharap mendapatkan contoh Islam yang hidup di mesir ini, Syaikh. tapi sungguh jauh dari yang kami harapkan. kami hampir-hampir Islam tidak di praktik di sini? Mana islam yang indah, Islam yang luhur seperti yang Syaikh ajarkan kepada kami saat di Paris dulu? Kenapa hanya sepelemparan batu dari Al-Azhar, ada laki-laki berjubah mengencingi tembok sambil berdiri? kenapa Paris yang tidak mengenal ajaran Islam lebih bersih dan lebih teratur daripada Kairo? Sesungguhnya apa yang terjadi, Syaikh?"

Bibir Syaikh Muhammad Abduh kelu. Ulama besar itu tidak bisa menjawab pertanyaan bernada protes dari murid-murid terkasihnya itu. Kedua mata Syaikh Muhammad Abduh basah. Ada kesedihan luar biasa menyusup di hatinya. dengan menahan isak, Syaikh Muhammad Abduh mengucapka kalimat yang kemudian sangat terkenal di seantero dunia Islam "Al-Islamu mahjuubun bil muslimin". Islam tertutup oleh umat islam. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam. Dan perilaku-perilaku itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran islam. Tidak juga bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi karena dari mulut mereka setiap saat mengaku bahwa mereka adalah umat Islam, maka wajar jika banyak orang menganggap seperti itulah ajaran Islam. padahal bukan ajaran Islam.

Akibatnya, jika yang dilihat adalah perilaku sebagian umat Islam yang tidak terpuji itu, dan itu yang dijadikan timbangan maka orang bisa antipati kepada islam. tak ayal, cahaya keindahan Islam tertutupi, Tragisnya yang menutupi cahaya itu justru perilaku pemeluknya yang tidak Islami.

Kisah Syaikh Muhammad Abduhdan murid-muridnya itu sesungguhnya masih terus terjadi hingga sekarang. Dan kalimat Syaikh Muhammad Abduh masih sangat relevan sampai sekarang. Betapa banyak manusia masuk Islam karena menemukan keindahan cahaya Islam itu langsung lewat Al-Qur'an, lewat hadist, atau apa yang di tulis para ulama yang ikhlas. Dan mereka lalu bersyukur bahwa mereka telah terlebih dahulu mengetahui Islam, mengenal Islam dan mengimani Islam sebelum berjumpa dengan umat Islam yang berperilaku jauh dari Islam dan bisa menjadi penghalang orang bersimpati kepada islam.


Dari sekian banyak kisah dan cerita hikmah yang disampaikan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novel Ayat-ayat Cinta 2 ini, kisah di atas sungguh menarik hati. Kisah tentang Syaikh Muhammad Abduh sungguh sangat menyindir sekali, terutama saya sebagai salah satu umat Islam. Sebagai umat Islam sewajarnya kita memberikan contoh melalui perilaku kita sebagai umat islam yang baik dan tidak memperlihatkan perilaku dan sikap yang buruk, dan juga tidak menjadi penghalang terpancarnya cahaya Islam. Sebuah cambuk bagi diri sendiri untuk memperbaiki diri menjadi umat islam yang lebih baik dan islami.

2 comments:

  1. Aku belum bacaaaa.... Pinjem donk *kedip2in Dian :)

    ReplyDelete
  2. itu novelnya juga boleh minjem mbak, punya mertua lagi hehehe...

    ReplyDelete

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^