Wednesday, 15 March 2017

NAGARI MUNGO

Nagari Mungo merupakan salah satu nagari yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Nagari Mungo memiliki sebelas jorong (Desa). Nagari Mungo didirikan sekitar abad ke-17 Masehi tepatnya Tahun 1612  dari dahulu sudah termasuk Nagari yang sudah  dikenal  yang disebabkan  karena ikan Gurami dan hewan ternaknya.
Nenek Moyang Nagari Mungo turun  dari Pariangan Padang Panjang melalui Padang Barangan Sungai Jambu ke sungai  Patai taruih ka Banbui Koto Tinggi,  Baliang Patapan, sebelum sampai ke Labuah Gunuang tiba di Batu Bajudi turun ke Luak Nan Duo , terus ke Indo baleh, ke Koto Bakuruang  lansung ke Luak Begak Tanjuang Bungo, disitulah Taratak Nagari Mungo.



Mungo
Kantor Wali Nagari Mungo


Asal Nama Nagari Mungo

Mungo
Pemandangan Nagari Mungo
Menurut Sejarah Nagari Mungo berasal dari kata Bungo, tersebutlah bahwasanya dinagari Andaleh sekarang  tumbuh sebatang kayu yang bernama kayu andaleh, setiap  kayu itu berbunga, bunganya selalu bertebangan ke arah Nagari Mungo dan jatuh dakat luak Begak Tanjung Bungo, oleh sebab karena bunga itulah maka orang tua sepakat memberi nama nagari  dengan nama Bungo, sesuai dengan dialek sahari-hari bungo disebut dengan Mungo. Nagari andaleh karena kayu yang bernama kayu andaleh tumbuh disitu maka dinamakan nagari itu dengan Nagari Andaleh, maka tersebutlah Mungo dengan  Andaleh.



Mesjid Tertua di Nagari Mungo


Mesjid Raya Balai Gadang Mungo merupakan salah satu mesjid tertua di Indonesia, terletak di Jorong Balai Gadang Bawah, Nagari Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Pembangunan Mesjid dimulai dari tahun 1914, yang di prakarsai oleh salah satu ulama terkemuka di Mungo bernama Haji Badu Gani. Pertama kali berdiri Mesjid ini hanya memiliki lantai dan dinding yang terbuat dari bambu dan beratapkan ijuk sehingga sempet terbakar akibat musim kemarau panjang di Nagari Mungo pada tahun 1918. Sekitar setahun setelah peistiwa tesebut, Haji Badu Gani mengajak dua kemenakannya yakni Haji Sultan dan Haji Syarbaini unuk kembali mmbangun Mesjid ini. Dengan dukungan banyak pihak trmasuk pemuka adat yang isebut sebagai Tuanku Nan Balimo, pembangunan Mesjid uhuk kedua kalinya ini dapat diselesaikan pada tahun 1920.
Pada tahun 2012 Mesjid ini ditetapkan sebagai salh satu dari sebelas lokasi pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Kabupaten Limapuluh Kota i Kecmatn Luak yang dilaksanakan pada tanggal 25 sampi 28 Juni 2012. (Wikipedia).

Penghasil bibit ikan Terbaik
Sejak lama Nagari Mungo terkenal sebagai salah satu penghasil bibit Ikan terbaik di Sumatera Barat, bukan hanya di kirim keberbagai Kabupten, bibit ikan dari Nagari Mungo juga di kirim keberbagai provinsi Seperti Riau, Kepulauan Riau, Jambi bahkan ke Manca negara. Masyarakat Nagari Mungo membentuk kelompok-kelompok tani perikanan sehingga dikenal masyarakat luas Sumtera barat sebagai penghasil ikan. Ikan yang banyak di bibitkan di Nagari Mungo ini adalah ikan Mujair, Nila, Mas, Lele, berbagai jenis Ikan hias dll.






Hal-hal menarik di Nagari Mungo
Banyak hal menari yang terdapat di Nagari Mungo ini yaitu: 
1. Pemandangan alam yang indah dan memiliki hawa yang dingin. Karena Nagari Mungo ini terletak di bawah kaki Gunung Sago dan juga di kelilingi oleh Bukit Barisan, sehingga membuat hawanya menjadi dingin, pagi-pagi udara akan sangat dingin, tidak jarang banyak masyarakat yang berlalu lalang di pagi hari masih menggunakan sarung, jaket dan penutup kepala. Karena hawa dingin inilah setiap pagi kebiasaan masyarakat terutama bapak-bapak, sebelum berangkat bekerja ke sawah, ladang maupun kolam-kolam, mereka terlebih dahulu duduk di kedai (pajak) untuk ngopi, ngeteh dan juga makan gorengan seperi tongkang (goreng ubi), Ketan dan goreng pisang dll.
Mungo
Gunung Sago dilihat dari Nagari Mungo, photo by Hendri Wahyudi
2. Sebagai Negeri penghasil ikan, tak heran jika ikan menjadi menu yang sering tersaji di meja makan setiap rumah. Ikan yang masih segar, di ambil dari kolam sesaat sebelum dimasak dan diolah dengan berbagai macam membuat selera makan akan semakin meningkat, ditambah dengan hawa sejuk yang akan membuat perut semakin sering keroncongan. 



3. Jalan di Nagari Mungo ini berbentuk leter U, ada dua gerbang untuk masuk dan keluar masyarakat, jalan yang saling terhubung membentuk huruf U.

4. Bukit Cinta, bukit cinta adalah bukit yang ada di nagari ini, karena Nagari Mungo ini jalannya berupa turunan, dari turunan setelah gerbang akan terlihat Bukit Cinta dari kejauhan, kenapa di namakan Bukit Cinta, kerena bukit ini banyak dijadikan sebagai tempat untuk pacaran, menebar cinta dan beribu janji manis πŸ˜…
Mungo
Bukit Cinta, Photo by Hendri Wahyudi

 Ceritanya saya lagi kengen berat dengan Negari yang sejuk ini, makanya menuliskan tentang Negari ini, walau hanya orang tua saya yang lahir dan besar di Nagari Mungo ini tapi saya merasa begitu dekat dan cinta dengan Nagari ini, sempat mencicipi sekolah SD dari kelas satu hingga kelas dua catur wulan satu (jaman itu masih pake catur wulan, ketauan tuanya πŸ˜…), sering banget bolak balik Batam-Mungo dan Tanjung Ampalu (Sijunjung) -Mungo. Jadi makin kangen kalau ingat masa-masa kecil di Nagari ini. Semoga bisa bawa Arayila dan Abinya "pulangkampung" ke Nagari Mungo ini, Aamiin...

Owh ya selamat ya buat dek Choty www.piknikcantik.com jadi pemenang pertama BWP writing contest πŸ˜ŠπŸ˜„πŸ˜Š

4 comments:

  1. Aku suka lihat foto terakhirnya mbak. Keren banget

    ReplyDelete
  2. Bukit Cinta nya apik bangetttt

    ReplyDelete
  3. Mbak Citra: Saya juga suka mbak, sayang blm nyampe sana 😊
    mbah Rahmi : iya mbak, rancak bana klo kta orng minang πŸ˜€

    ReplyDelete
  4. Saya asli orang mungo, follow ig saya @dheryjoe_23

    ReplyDelete

Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak ^^